(0741) 40131 ptajambi@yahoo.com

GEDUNG PTA OK

  

Kita baru saja menikmati libur panjang yang dimulai sejak tanggal 25 berlanjut sampai dengan tanggal 28 Desember menjadikan hari libur kita begitu panjang, bahkan masih berlanjut dengan WFA tanggal 29, 30 dan 31 Desember 2025, keadaan ini menandai pergantian tahun baru tahun 2024 ke tahun 2025. Kesempatan libur ini tentu akan dimanfaatkan oleh banyak kalangan atau sebagian orang untuk piknik atau berwisata alam atau wisata budaya atau silaturrahmi ke keluarga dan saudara.

Wisata bisa diartikan sebagai suatu kegiatan atau aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok dalam wilayah negara sendiri atau negara lain dengan menggunakan kemudahan jasa yang diadakan oleh pemerintah atau masyarakat dalam rangka memenuhi keinginan wisatawan dengan tujuan tertentu. Kita biasanya memiliki motif perjalanan yang berbeda-beda ada yang bertujuan wisata baik alam, budaya atau wisata religi. Tapi ada pula yang disebabkan mengunjungi keluarga, sanak famili atau teman bahkan untuk kesehatan maupun pendidikan.

Dalam perkembangan pariwisata, bangsa yang suka berwisata adalah bangsa Romawi, mereka suka melakukan perjalanan bermil-mil untuk mengunjungi Mesir dengan melihat peninggalan sejarah Mesir kuno seperti piramida dan kuil.

Dalam catatan sejarah, orang pertama yang melakukan perjalanan melancong adalah Marcopolo. Dia melakukan wisata dari benua Eropa sampai daratan Tiongkok lalu kembali ke Venesia (Italia) antara tahun 1269 - 1295 M kurang lebih 26 tahun. Dalam dunia Islam dikenal wisatawan pertama adalah Ibnu Batutah seorang pemuda dari Maroko yang melakukan perjalanan dari Maroko, Iskandariah, Mesir, Syiria, Mesopotamia, Makkah, Madinah sampai Persia, New Delhi (India) dan Cina. Dia melakukan perjalanan sejak usia 21 tahun sampai kembali ke daerah asalnya selama beberapa tahun. Dia juga dikenal sebagai seorang wisatawan paling banyak melakukan perjalanan di abad pertengahan yang kemudian perjalanannya dibukukan dan dikenal dengan The First Traveller of Moslem(Wisatawan Pertama Muslim).

Wisata dalam Islam

Dalam Al Qur'an maupun Hadits perintah, anjuran dan dorongan untuk berwisata sangat banyak lebih dari sepuluh ayat. Berikut ini hanya akan dikutipkan dua ayat saja. Dalam kajian Islam, betapa kita bukan sekedar dianjurkan bahkan diperintahkan untuk menjelajah bumi, sebagaimana dalam ayat berikut, yang artinya:

"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan". (QS Al Mulk:15)

Pada ayat ini kita diperintahkan untuk melakukan penjelajahan di sudut-sudut bumi artinya ke wilayah yang jauh bahkan bukan hanya tempat akan tetapi juga wisata kulinernya (rezekiNya). Pada ayat lain dalam surat Ar Rahman ayat 33, Allah berfirman yang artinya: "Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan". Yang menarik dalam ayat ini diakhiri dengan kata sulthon di Indonesia sudah dipopulerkan dengan kata sultan yang tentu kita sudah memahami apa makna sultan di sini.

Kata sulthon dalam ayat tersebut artinya adalah kekuatan, kemampuan (ilmu), kesehatan dan kekayaan dan yang paling penting adalah kekuasaan Allah swt. Seseorang yang melakukan perjalanan apa lagi jauh melintasi beberapa wilayah (negara), harus memenuhi syarat seperti fisik harus kuat dan sehat, mampu harus didukung dengan ilmu pengetahuan baik geografi, klimatologi, transportasi, nutrisi

dan kemampuan finansial (keuangan yang cukup). Seorang yang berwisata harus memiliki kemampuan keuangan yang lebih dari cukup, karena dalam perjalanannya sangat membutuhkan biaya yang amat besar baik untuk transportasi, stay di suatu tempat dan perbekalan konsumsi selama perjalanan.

Tujuan Wisata

Banyak disebutkan tujuan dalam berwisata sesuai yang dianjurkan dalam Islam, antara lain:

Pertama, mengenal Sang Pencipta dan meningkatkan nilai spiritual, tujuan paling utama berwisata adalah mengenal Allah dengan memahami kebesaran ayat-ayat kauniyahNya (makro cosmos) sehingga menimbulkan getaran dalam jiwa kita betapa indah dan agungnya semua yang diciptakannya. Sehingga kita mengakui betapa lemahnya manusia di hadapanNya.

Kedua, membuka peluang usaha dalam pemberdayaan potensi wilayah. Salah satu tujuan lai wisata adalah meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat. Mencari penghasilan yang halal dan sehat adalah suatu usaha yang diwajibkan dalam Islam. Yang menarik dengan pernyataan ini ternyata menjadi sarana penyebaran agama yang amat efektif.

Ketiga, menambah wawasan keilmuan. Sejak kemunculan Islam pertama kali, para pemelukbya sudah diberi motivasi untuk mengembangkan ilmunya tidak saja di wilayahnya sendiri akan tetapi bahkan dianjurkan untuk belajar sampai ke negeri Cina. Inilah salah satu sebab tumbuhnya peradaban Islam dengan menuntut ilmu pengetahuan dari berbagai wilayah dan berbagai peradaban, Yunani, Romawi, Persia bahkan Cina.

Keempat, tujuannya untuk mendapat ketenangan jiwa dan kebersihan hati. Dengan berpiknik diharapkan bisa menikmati kesenangan dengan cara yang sehat. Tadabbur terhadap segala ciptaan Tuhan seperti melihat gunung, hamparan pantai, hutan, sungai dan air terjun yang indah mendatangkan kepuasan batin yang muaranya menambah keimanan kita terhadap Sang Khalik. Demikian pula berwisata dengan tujuan menjalin silaturrahmi dengan siapapun dianjurkan dalam agama kita. Dengan silaturahmi akan memberikan kebaikan, membuka pintu rezeki, membersihkan hati dan mendatangkan keberkahan.

Wallahu a'lam bi showab

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart

Jambi, 29 Desember 2025

Dr. Chazim Maksalina, M.H.