
Bismillahirrahmanirrahim
Sebelum menjawab tentang ekstremisme dalam Islam, perlu mengetahui karakter 'Arab dulu. Arab dari kata 'araba, artinya bergerak tidak bisa stabil. Dalam ilmu nahwu (gramatika) perubahan kata akhir dari Muhammadun, menjadi Muhammadan dan berubah Muhammadin itu namanya i'rab artinya berubah. Di Arab bahasa sehari-hari mobil itu ' arabiyyah sedang bahasa fushah(resmi) nya sayyarah. Ini membawa makna filosofis, watak yang mudah berubah, labil, tidak ada keterkaitan dengan tanah air, tidak ada kecintaan kebanggaan terhadap tanah air, karena tanahnya tandus, kering, panas dan tidak menghasilkan apa-apa. Kemudian kita dikenalkan dalam sejarah, orang Arab itu adalah masyarakat yang jahiliyah(bodoh) dan ummiyyin(buta huruf) dhalalun mubin(sesat yang nyata), dalam arti mereka menyembah batu tanpa ada basic teologi. Beda dengan agama Hindu - Budha punya kitab suci Baghawatgita - Weda.
Arab Nomaden
Di tengah masyarakat seperti itulah Islam diturunkan, di bawa oleh seorang yatim piatu, buta huruf nama Muhammad bin Abdullah SAW. Ternyata hikmah yang paling besar adalah Tuhan mempercayakan agama Islam kepada orang Arab agar segera cepat menyebar, karena orang Arab adalah masyarakat nomaden(selalu berpindah tempat). Masyarakat Arab tidak ada rasa berat sama sekali meninggalkan tanah kelahirannya. Maka tidak ada agama yang pesebarannya seperti Islam, hanya dalam waktu 40 tahun, Islam telah menyebar ke seluruh Arab Asia, Asia selatan India, Asia tengah Kazahstan, Turkmenistan, Tajikistan, Kirgistan, Uzbekistan, perbatasan Cina bahkan masuk ke Cina. Di Afrika membentang dari Mesir, Lybia, Tunisia, Aljazair sampai paling ujung barat Maroko. Pada tahun 90 berhasil menyeberang ke daratan Eropa yaitu Spanyol. Prestasi ini berkat Arab yang nomaden.
Mukjizat Al Qur'an
Mukjizat Islam yang utama adalah Al Qur'an, kitab suci seluruh umat, terutama bahasa Al Qur'an. Setelah diikuti oleh orang-orang non Arab, terutama bangsa Persia (Iran), yang telah berperadaban ribuan tahun, maka bangsa Persia yang diperlakukan nomor dua (mawali), karena bukan Arab, maka justru mereka merebut posisi peradaban keilmuan, yang membangun peradaban dalam Islam adalah orang Persia, bukan orang Arab. Kita tahu yang menggagas menyempurnakan tulisan Arab, supaya dapat dibaca, mushaf Utsmani (Sayyidina Utsman) dulu tidak ada tanda titik satu, titik dua dan titik tiga, antara huruf ba (ب)، ta (ت)، tsa (ث)، nun (ن)، dan huruf ya (ي) semua sama. Dan yang pertama tanda titik bukan orang Arab, namanya Abul Aswad Ad Duali ( 59 H). Kemudian setelah titik bikin harakat fathah, dhomah kasrah, fathatain, dhomatain, kasratain, sukun, tasydid bukan orang Arab, tapi orang Persia namanya Cholil bin Ahmad Al Farhadi (175 H) orang Farhad Afghanistan. Kemudian lahir ilmu tajwid, supaya baca Al Qur'annya benar, Tajwidi Tilawatil Qur'an memperbaiki bacaan Al Qur'an, juga bukan orang Arab namanya Abu Ubaid Qasim bin Salam, orang Persi. Imam empat yang sangat terkenal, dua orang asal Arab, Imam Maliki dan Imam Syafi'i dan dua orang bukan Arab, Imam Hanafi dan Imam Hambali. Seterusnya yang merawat hadits ada sepuluh orang, satupun tidak ada orang Arab, mereka adalah Bukhori, Muslim, Abu Dawud, An Nasa'i, Ibnu Majah, Tirmidzi, Daruqutni, Darimi, Ibnu Huzaimah, Al Hakim. Demikian halnya Imam Al Ghazali, Haramain, Al Baqillani, Arab Razi, Sanusi, Dasuki bukan orang Arab, walgasil peradaban dibangun oleh orang 'ajam(bukan Arab). Hal ini menunjukkan bahwa peradaban Islam berkembang bukan di tempat kelahirannya, tapi berkibarnya Islam sampai Baghdad sehingga menjadi pusat peradaban dunia saat itu, selama 400 tahun dengan puncaknya pada masa khalifah Harun Ar Rasyid, Mskmun, Mu'tashim, Al Watsiq, Al Mutawakkil. Baghdad menjadi pusat peradaban dunia dunia itu dibangun oleh orang ' ajam non Arab, orang Persia.
Jadi Islam menjadi agama peradaban dengan membawa misi budaya akhlak disumbang karena andil besar non Arab. Memang semua sumbernya dari Rasulullah, dalam bidang tasauf spiritual dengan tokoh-tokohnya Abdul Qadir Jailani, Imam Junaidi, Al Karkhi, Sirri Siqthi, Al Ghazali semuanya bukan orang Arab. Yang mengonsep bagaimana membangun hati kekuatan tsaurah ruhiyah revolusi spiritual supaya manusia benar-benar menhadi manusia seutuhnya (perfect) dari sisi dpiritual bukan orang Arab. Sumbernya dari Al Qur'an, yang membangun bukan orang Arab.
Kemunduran Islam
Arab lemah atau Islam lemah setelah 400 tahun maju, begitu lemah kepemimpinan khilafah, diambil alih oleh keluarga Turkmenistan (Turki), yaitu keturunan Taghribi yang terkenal dengan Ottoman. Ottoman ahli jago dalam berperang tetapi sangat lemah dalam peradaban keilmuan, ada ulama tapi sedikit. Akan tetapi Ottoman mampu menaklukkan kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) 1448M. Bizantium hilang dari peta bumi. Muhammad Al Fatih menaklukkan Bizantium ibu kota Konstantinopel diganti menjadi Istanbul dan Mulk Turki menjadi Islam seratus persen sampai Balkan (Albania, Kosovo, Bosnia) Cyprus, Malta menjadi Islam semuanya, hampir mencapai Austria itulah kehebatan Ottoman. Sayangnya atau kekurangan Ottoman adalah tidak mebgarabkan atau membahasa-arabkan literasi dan administrasi dalam sistem kenegaraannya, semuanya menggunakan bahasa Turki maka di situlah kemunduran peradaban Islam. Dari sisi ekspansi mereka memang hebat, tapi dari sisi mengisi peradaban terhenti. Di situlah yang terkenal dengan abad pertengahan. Para ulama berkutat pada elaborasi hanya men- syarah meng- hasyiyyah atau meringkas (mukhtashor). Di situlah abad pertengahan disebut sebagai abad kegelapan. Ternyata semakin merosot, yang kita bangsawan misalnya Universitas Al Azhar makin mundur, An Nidzamiyah di Irak semakin hilang namanya.
Era Modern
Era modern dari satu sisi luar biasa bukan berarti Islam tidak mampu membangun peradaban tapi atas kemunduran ekonomi, politik, sosial, budaya dan ilmu pengetahuan pada saat yang bersamaan Eropa bangkit. Maka raja Sultan Muhammad Ali dari Mesir memanggil Inggris untuk membangun Mesir, Inggris diundang bukan ekspansi beda dengan Itali dan Perancis. Sadar umat Islam dengan kekurangannya menjadikan Islam dalam posisi yang sangat mundur dan Eropa pun mulai bangkit ternyata wilayah Islam sudah dikangkangi Eropa. Wilayah Islam dikuasai kolonial. Irak, Mesir dan Sudan dijajah Inggris, Libanon, Suriah, Tunisia dan Aljazair di bawah Perancis, Lybia dijajah Itali, Pakistan (India) di bawah Inggris dan Indonesia dicengkeram Belanda dan seterusnya.
Khilafah Runtuh
Tahun 1924 M khilafah runtuh dan dibebaskan oleh Mustafa Kamal Attaturk sistem khilafah sejak zaman Abu Bakar RA, sampai 1924 M bubar ga ada lagi khalifah_sebagai pemimpin tunggal. Banyak faktor kelemahan dari dalam internal sendiri. Begitu pula luar biasanya faktor eksternal. Ini artinya dalam umat Islam terjadi perubahan sejarah yang luar biasa, yang dulu sentralustik satu khilafah dan di situ ada faktor agama, kita harus taat _ulil amri(pemegang kekuasaan) satu khilafah. Atiullaha wa atiur rasula wa ulil amri minkum(Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan kepada pemimpinmu). Tidak boleh kita melawan ulil amri (pemimpin) karena kita punya dasar teologis. Setelah khilafah hilang, umat bertanya siapa yang harus diikuti, apakah raja atau presiden atau amir atau sultan. Demikianlah setelah khilafah tidak ada masyarakat Arab, terutama Arab dan Islam tidak punya pemimpin terjadi kekosongan. Berkali-kali ulama kumpul dari India Pakistan dan Afghanistan ingin mengembalikan lagi khilafah tetapi selalu gagal. Maka terjadilah kondisi yang luar biasa saat itu. Dunia Islam terpecah belah dengan multi sistem pemerintahan dan beragam corak pemimpin negara.
Munculnya Nasionalis Arab
Pertama kali tokoh Arab yang mendirikan partai politik (1947) untuk melawan penjajahan dengan semangat nasionalis tapi tidak dibarengi dengan semangat agama yaitu partai Ba'ath didirikan oleh seorang tokoh dari Damaskus yang beragama Kristen Ortodoks Yunani bernama Michael Aflaq beliau sangat luar biasa mengader pemuda-pemuda Arab supaya punya jiwa patriotik melawan penjajah, sayangnya tidak ada dasar teologi hanya nasionalisme saja. Karena konsepnya persis mengadopsi dari Ernwat Renan yang menulis buku tahun 1955 What is The Nation. Maka dari situ terjadilah perpecahan pemikiran umat Islam, ada yang terbuka menerima nasionalisme tapi tetap beriman percaya kepada Tuhan ada yang menolak pemikiran ini, yang menyatakan dengan tegas yang datang dari luar harus ditolak. Namun Ba'ath terus berkembang dengan memunculkan pemimpin-pemimpin Atab seperti Jamal Abdul Naser, Sa'ad Zahlul, Al Ghurobi di Mesir, di Irak punya murid Saddam Husein (pengganti partai Machael Aflaq) di Suriah punya murid Hafidz Asad di Lybia ada Muammar Khadafi. Kemudian muncul para ulama aktivis muslim yang baru sadar bahwa umat Islam harus bergerak tidak boleh tidur dan mengajak membikin partai politik. Maka muncul sekarang tokoh ulama alumni Al Azhar berasal dari Maroko bernama Syeikh Hasan Al Banna dengan teman- temannya membangun partai politik dengan nama Ikhwanul Muslimin konsepnya persis dengan aswaja moderat, berjuang ingin menyebarkan dakwah Islam yang damai, dengan budaya mengedepankan akhlaqul karimah menjauhi kekerasan (1928 M). Pada tahun 1948 seorang pemuda Ikhwanul Muslimin Abdel Mequid Ahmad Hasan membunuh perdana menteri Mesir bernama mahmoud An Nukrasi Pasha. Al-Banna sendiri mengecam tindakan Hasan dan menegaskan bahwa tidakan teror tidak sesuai ajaran Islam. Syeikh Hasan Al Banna marah dengan mengatakan bukan begini yang dimaksud kita berpartai, jika anda membunuh PM berarti membunuh saya kata Hasan Al Banna, satu tahun setengah kemudian (1949) Syeikh Hasan Al Banna tewas ditembak oleh dua orang misterius.
Sebagai gantinya seorang yang terkenal namanya Sayid Qutub, bukan seorang ulama bukan dari Al Azhar seorang wartawan jurnalis dari Cairo University beliau menulis banyak tulisan yang menjadi pedoman partai Ikhwanul Muslimin yang dibukukan dengan judul Ma'alim Fil - Thoriq. Sayid Qutub Qutub mengembangkan ketidaksetujuannya terhadap para imam dan pemahaman tradisional mereka atas pendidikan, yang di kemudian hari akan menjadi standar konfrontasi pemikirannya sepanjang hidup. Banyak tulisannya yang menjadi acuan di sekolah, kampus dan universitas. Buku inilah yang beredar di IPB, ITB, UI, Undip dan perguruan tinggi lainnya. Yang diterjemahkan macam- macam salah satunya Petunjuk Jalan Ke Surga.
Isi ringkasnya adalah, kita harus menolak ide yang datangnya dari luar Islam karena yang datang dari Islam namanya Jahiliyah. Jahiliyah bukan berarti pemilik atau buta huruf tapi ia adalah sistem pemerintahan sistem politik yang tidak berdasar Al Qur'an dan Al Hadits, contohnya komunisme, kapitalisme, sosialisme, nasionalisme juga jahiliyah di situ luar biasa. Akibat pendapat Ikhwanul Muslimin seperti itu terjadi situasi di Timur Tengah sangat luar biasa. Pemuda-pemuda ingin mengubah pandangan dan ingin masuk Ikhwan, sehingga Ikhwan menyebar di luar Mesir seperti Sudan, Suriah dan Irak (sebagian). Saudi Arabia melarang, Qatar ada. Jamal Abdul Naser bersikap keras walaupun dalam revolusi tahun 1953 Ikhwan mendukung gerakan Abdul Naser. Gerakan Ikhwan mencoba kudeta, tahun 1965 tapi gagal, akhirnya tokoh Ikhwan enam orang digantung di Tahrir Square bersama Sayid Qutub, Muhammad Yusuf Hawash, Abdul Fattah Ismail, Ahmad Abdul Majid, Shabri Arafah, Abdul Aziz Mutawalli, dan Ali Asymawi ditonton oleh rakyat dan Ikhwan resmi dilarang.
Ikhwan dilarang ternyata tidak bubar, lahir dan muncul organisasi yang lebih radikal namanya Jama'atul Muslimin lebih dikenal Jamaah Takfir wal Hijrah kalau di Indonesia dikenal dengan takfiri di Indonesia, yang mendirikan Syukri Ahmad Musthofa tahun 1969 dari tahun 1965 penggantungan 6 tokoh Ikhwan tapi munculnya tahun 1969. Semua orang kafir, kulluhum kafirun Al Azhar kafir, semua kelompok yang menerima konsep nasionalisme, yang menerima kerja sama dengan non muslim kafir, dengan dalih wa man lam yahkum bi ma anzalallahu faulaika humul kafirun(Al Qur'an) barang siapa menghukum tidak berdasarkan Al Qur'an maka mereka adalah kafir. Kalau kafir maka diperangi, demikian soktrinnya. Mereka pertama kali berhasil membunuh Menteri Wakaf Mesir bernama Dr. Husein Adzahibi (1977). Tidak lama kemudian membunuh wartawan senior koran Al Ahram namanya Yusuf AS Sibai, kemudian puncaknya membunuh presiden Anwar Sadat 6 Oktober 1981 terang-terangan ketika beliau sedang upacara memperingati kemenangan Mesir melawan Israel 1973. Saat Husni mubarak menjadi Presiden mereka dibabat. Ternyata tidak bisa habis, masih banyak di gurun paair Sinai sampai sekarang, mereka pernah mengebom di kota Ismailiyah. Di antara pemimpin takfiri lari karena terus dicari dan mau dihukum mati namanya Aiman Adzawahiri lari ke Afghanistan.
Dulu Afghanistan dipimpin oleh Raja Daud kemudian menjadi republik dan ternyata didukung oleh Uni Soviet komunis tapi komunisnya setengah- setengah maka dikudeta oleh Babrak Kamal betul- betul komunis tulen. Maka Uni Soviet menginvasi Afghanistan sampai ke Pakistan.
Dalam menghadapi keadaan seperti itu Raja Arab Saudi Fahad membuka pendaftaran pemuda untuk jihad di Afghanistan berapapun biayanya, kemudian Fahad mendatangkan tentara Amerika untuk melatih perang. Semua pemuda Islam mendaftar dari Arab Saudi, Pakistan, India, Bangladesh, Malaysia, Indonesia bahkan dari Eropa banyak, muslim Perancis 1500, muslim Inggris ratusan, muslim Austria, perempuan Eropa juga ada, semua karena alasan demi jihad. Singkat cerita Uni Soviet kalah menyerah dan lari meninggalkan Afghanistan. Raja Saudi memanggil mujahidin pulang dan membubarkannya. Para pemuda kembali ke negara masing-masing. Pakistan kebanyakan tidak kembali ke negaranya tapi menetap si perbatasan Utara sampai sekarang masih sering terdengar bom meledak di sana. Dari Saudi Arabia ada yang tidak mau pulang ke negaranya antara lain tokoh yang bernama Usamah bin Laden, yang berjumpa dengan Aiman Adzawahiri pelarian dari Mesir yang kemudian mendirikan Al Qaida. Kita tahu Al Qaida kelompok jihadis mendapat modal dari Saudi dan latihan perang yang mereka terima dari tentara Amerika dan memanfaatkan sebesar-besarnya untuk melawan Amerika sendiri di afghanistan.
Semua harus Islam
Begitu Uni Soviet kabur dari Afghan, para mujahidin langsung menetapkan semua harus merujuk Islam, padahal Islam macam-macam ada Sunni dan Syiah yang sulit disatukan padahal hanya 7 suku. Faksi si antara mereka saling perang merebut kekuasaan ada tokoh Hekmatiyar, ada tokoh Burhanuddin Robbani hafal Al Qur'an menjadi presiden karena cenderung nasionalis, dibunuh karena dianggap kafir.
Asal Mula Radikalisme dalam Islam
Jika kita usut awal mula radikalisme dalam Islam diawali peristiwa yang terjadi pada tahun 8 hijriyah (630 M) ketika Nabi Muhammmad masuk kota Makkah yang disebut dengan Fathu Makkah, begitu masuk Mekkah Nabi memberi amnesti kepada semua yang pernah menyakiti dan mberi maaf tidak ada balas dendam. Abu Sufyan saat itu salah satu tokoh yang masih ada, Abu Jahal sudah mati, Bakhtari masih hidup sehingga jumlah umat Islam setelah Fathu Makkah mencapai 100.000 ribu orang. Dari sana mereka pergi ke Thoif 80 km dari Makkah, Abu Sufyan memimpin perang untuk menunjukkan bahwa mereka umat Islam, tarif menyerah dilanjutkan ke Hunain dan ditaklukkan. Dari sana dapat ghanimah. Harta rampasan perang (ghanimah) dari penaklukan Thaif dan Hunain sangat besar. Dalam perang Hunain, pasukan Muslim memperoleh 24.000 unta, 40.000 domba, 4.000 uqiyah perak, dan 6.000 tawanan. Harta rampasan ini kemudian dikumpulkan di Ji'ranah 28 km dari Makkah dan dibagikan setelah Perang Thaif selesai. Sambil berpakaian ihram karena mau umroh Nabi membagi harta tersebut, akan tetapi aneh beda dari yang biasanya
Yang muallaf baru masuk Islam kemarin walaupun kaya raya diberi unta 100 ekor untuk Abu Sufyan, Al Bakhtari 40 unta padahal orang kaya, sementara sahabat besar Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Saad, Said, Tolkhah, Zubeir tidak dikasih satu ekor pun, sahabat semua diam tidak komentar sedikitpun. Tiba- tiba dari belakang seoarang Badui bernama Dzul Huwaisiroh dari suku Bani Tamim datang di hadapan Nabi dalam satu riwayat orang tersebut cirinya tinggi kurus, kepala gundul, jenggot panjang, sifatnya hitam, celana separuh betis dengan angkat tangan berkata: I'dil ya Muhammad " Bagi yang adil wahai Muhammad!"
Nabi langsung menjawab: Wailak, man ya'dilu idza lam a'dil "Celaka kamu, siapa yang adil jika aku tidak berlaku adil, yang aku lakukan ini adalah perintah Allah bukan dari saya" akhirnya orang itu pergi, lalu Nabi bersabda dengan tegas: " Nanti di akhir zaman ada orang seperti ini kalau bicara dasarnya Al Qur'an tetapi tidak paham dan tidak melewati tenggorokan mereka, mereka itu sejelek-jelek makhluk, mereka bukan golonganku dan aku bukan golongan mereka.
Itu prediksi Nabi Muhammad SAW dan ternyata benar, tahun 30 H dari Bani Tamim mulai merencanakan membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib RA di Kufah, Muawiyah gubernur Syam di Syiria dan Amru bin Ash di Mesir secara mufakat. Mereka beralasan Ali, Muawiyah dan Amru bin Ash memutus dengan cara musyawarah memanggil para sahabat, tidak dengan Qur'an tetapi yang dipakai hukum manusia. Tanggal 25 Ramadhan tahun 40 H Khalifah Ali RA dibunuh saat menuju masjid untuk memimpin jama'ah sholat subuh.
Kelompok Neo Khawarij
Orang yang tidak menjalankan hukum Al Qur'an semuanya dianggap kafir. Nep Khawarij di zaman sekarang ini ada di mana-mana. Mengapa bisa terjadi karena mereka putus asa dalam memahami agama Islam, putus asa karena ragu Islam membawa kemajuan, kesejahteraan dan keadilan. Faktanya semua kepala negara di Timur Tengah tidak ada yang benar, baik itu sultan, raja amir maupun presiden, semua dalam karena membiarkan Palestina dicapai oleh Israel, para pemimpin Palestina dianggap bisa disuap Mahmoud Abbas, Yaser Arafat, dataran tinggi Golan dijual oleh Hagidz Al asad apalagi Anwar sadat mau berdamai dengan Menachem Begin secara massal generasi muda putus asa. Kesimpulannya generasi muda putus asa sudah bosan dan jenuh mengharapkan Islam mampu membawa peradaban kesejahteraan tetapi yang terjadi sebaliknya, nihil.
Keputusannya ini melahirkan dua hal. Satu ekatremisme dan yang kedua atheisme. Kenapa terjadi seperti itu karena memahami Islam hanya dari sisi aqidah dan syari'ah teologi dan ibadah saja
Seharusnya Islam harus dipahami sebagai agama peradaban dan ilmu pengetahuan wa liya‘lamalladzîna ûtul-‘ilma annahul-ḫaqqu mir rabbika(Al Haj: 54) "Agar orang-orang yang telah diberi ilmu itu mengetahui bahwa ia (Al-Qur’an) adalah kebenaran dari Tuhanmu". Kebenaran harus dengan ilmu pengetahuan. Tidak ada kitab suci yang mengajarkan toleransi, adab tata keamanan yang sarat seperti dalam Al Qur'an.
Tauhid Bagi Orang Beradab
Sangat beda sekali orang menerima tauhid antara orang yang berperadaban dengan orang yang tidak berperadaban. Ketika orang yang tidak berperadaban menerima agama Islam seakan-akan kebenaran hanya ada di situ dan itu harus kita perjuangkan harus dibela mati-matian yang lain salah semuanya. Karena tidak ada back ground karena tidak ada budaya ilmu pengetahuan. Berbeda dengan orang Persia tadi, yang peradabannya sudah maju. Persia itu termasuk Afghanistan dan Asia Tengah. Ulama-ulamanya seperti Al ghazali, Al Baqillani, Ar Razi, Al Junaidi Abdul Qadir Jailani, Bukhori Muslim, Ibnu Sina Al Farabi, Al Kindi, Jabir bon Khayan penemu teori matematika, semuanya orang ajam tidak ada eadikalisme, karena Islam bertemu dengan peradaban yang sudah mempunyai budaya karakter Persia. Begitupun orang Jawa atau Nusantara ini, Islam hanya berganti istilah sebagai agama tauhid dengan tuhan Allah tapi budaya, karakter, akhlak, ruhaniyah spiritual sudah ada, maka dengan itu semua radikalisme di Jawa atau Nusantara ini asing tidak ada. Radikalisme semua datang dari luar dengan manipulasi teologi khawarij tadi, kebenaran hanya milik mereka.
Semua tujuan, agenda, program kalau dipoles dengan atas nama agama padahal sebenarnya tidak, itu namanya manipulasi agama. Al Qr'an tegas menyatakan wa man adhlamu min maniftara alallahil kadziba wajahnya yud'a ilal Islam wallahu la yahdil qauma dzalimin. Orang yang berkehendak berbuat kadzib bohong dengan mengatakan yud'a ilal islam ini demi Islam demi tuhan padahal tidak, mereka adalah orang yang sangat dzalim. Kalau kita lihat dari pergerakannya maka ada gerakan monopoli kebenaran, yang lain itu salah kami yang benar itu tanda-tanda manipulasi tidak ada keterbukaan dan siap berdialog diskusi mana yang benar, seperti Qur'an perintahkan kepada Nabi Muhammad juga demikian. Ketika Nabi kedatangan tamu Kristen dari Najran, pertama kali Nabi bingung bagaimana caranya menghadapinya. Al Qur'an memberikan guidance, qul innaa auliyaakum hudan. Muhammad terima mereka tamu untk duduk berbicara kami atau anda yang benar atau sesat, artinya Qur'an memberikan pelajaran pada kita semua mengutamakan diskusi.
Jambi, 7 Julii 2025
Dr. Chazim Maksalina, M.H.