(0741) 40131 ptajambi@yahoo.com

GEDUNG PTA OK

Tulisan ini terilhamii dari buah pikiran Imam al-Ghazali ketika menjelaskan keajaiban hati. Menurut Al Ghazali, ilmu yang berada dalam hati, itu bisa diperoleh melalui belajar dan bernalar melalui dalil. Dan ada juga ilmu yang melekat dalam hati bersumber dari sang ilmu itu sendiri. 

Jenis ilmu pertama ini adalah ilmunya para ulama. Sedang jenis ilmu kedua adalah ilmunya para kekasih Allah dan para Nabi. Jenis ilmu pertama diperoleh melalui pembacaan dan pemahaman terhadap dalil dan karenanya bisa jadi tidak jernih atau bening karena ketidakjelasan dalil atau ada kepentingan tertentu dari pengguna dalil. Sedang ilmu yang kedua adalah ilmu yang jernih sebagaimana tertulis dalam lembaran terjaga karena bersumber dari Allah yang diilhamkan ke dalam hati setiap orang yang dikasihinya. 

Ilmu yang pertama bisa dipelajari melalui dalil Al Qur'an dan as Sunnah, tentu dengan manhaj yang telah digariskan para ulama, memahami ilmu nahwu (gramatika), sharaf (perubahan bentuk), balaghah (pengolahan kata atau kalimat), mantiq (logika), ilmu usul fiqih (kaidah dan pembahasan dalil) dan ilmu lainnya. Bukan hanya melalui terjemahan atau melalui media sosial atau asal ngomong.

Sedang ilmu yang kedua tidak dipelajari, melainkan digali, dirasakan, didengarkan dari hatinya yang bersih.

Bagaimana membersihkan hati? Yaitu dengan melepaskan dan mengosongkan hati dari apapun yang berbau dunia, keluarga, harta, anak, tempat tinggal, ilmu, kekuasaan, sampai pada tingkat sama antara ada dan tidak adanya.

Bagi Al Ghazali, hati adalah cermin. Jika ia bersih, maka secara otomatis ia bisa menangkap cahaya Allah yang ia adalah ilmu Allah. Semakin bening hati semakin jernih ilmu Allah yang dipantulkannya. 

Bagaimana bisa agar ilmu yang terpantul dalam hati lebih bening?

Menurut Al Ghazali, hati bagaikan telaga. Air bagaikan ilmu. Sungai- sungai yang mengalir ke dalam telaga bagaikan indera-indera untuk mendapatkan ilmu. Air yang dialirkan melalui sungai-sungai itu bisa kotor dan membawa sampah-sampah ke dalam telaga. Demikian pula ilmu yang diperoleh melalui indera-indera melalui dalil juga bisa kotor dan membawa sampah. Bagaimana mendapatkan air yang jernih? Maka galilah telaga dan temukan mata air dari dalam telaga itu. Air yang bersumber dari dalam telaga ia akan jernih. Demikian pula ilmu yang digali dari kedalaman hati. Ia akan jernih, sejernih air bening.

Jangan menyibukkan pikiran dengan membaca Al Qur'an, tafsir, hadits atau lainnya, melainkan isilah hati hanya dengan dzikir Allah, Allah, Allah. Tegas Al Ghazali.

Sulit, memang sulit sekali mendapatkan ilmu yang jernih. Apa lagi bagi seorang yang selalu menuntut atau mempertanyakan segala sesuatu harus berdasarkan dalil. Subhanallah. Disarikan dan diedit dari beberapa tulisan sebuah penerbitan.

Wallahu a'lam bi showab

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart

Jambi, 12 Desember 2025

Dr. Chazim Maksalina, M.H.