
Ketika kita membicarakan manusia maka kita jumpai bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks, dari unsurnya, dia itu terdiri dari dhahir dan batin sebagaimana diterangkan dalam S Luqman ayat 20, "wa asbagha alaikum niamihi dhahiratan wa bathinatan", artinya "Dan Aku sempurnakan nikmat-nikmatNya atas kamu dhahir dan batin", dari ayat ini bisa dipahami bahwa manusia terdiri dari dua unsur dhahir (jasmani) dan bathin (ruhani). Sesuai dengan judul, kita tidak akan membicarakan hal-hal lahiriyah manusia akan tetapi (sedikit) akan mengulik masalah "hati". Jika kita membedah unsur batin (diri) manusia ternyata di dalamnya ada ruh, nafsu , akal (aql) dan hati (qalb).
Dalam tulisan ini kita akan memfokuskan pada "hati". Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda, “ Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang jika baik, maka baiklah seluruh tubuhnya dan jika buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya, ia adalah hati.” (HR. Al-Bukhari).
Dari hadits ini, dapat dipetik satu pelajaran penting bahwa hati adalah pemimpin, sedangkan anggota tubuh lainnya adalah pengikut atau prajuritnya. Jika kondisi hati selaku pemimpin baik, maka insyaAllah anggota tubuh selaku pengikutnya pun akan baik. Namun, sebaliknya jika hati tidak baik, maka tidak ada harapan anggota tubuh lain selaku pengikutnya akan baik.
Dengan demikian, baik-buruknya perilaku seseorang bergantung pada keadaan hati. Karena itu, siapa saja yang ingin mengubah diri serta memperbaiki tingkah laku anggota tubuhnya, maka hendaknya memulai dengan menata dan memperbaiki hati.
Salah satu manajemen diri kita adalah menata hati yang berarti mengelola hati supaya potensi positif bisa berkembang maksimal menggiring kemampuan berpikir dan bertindak sehingga sekujur sikapnya menjadi positif, dan potensi negatifnya segera terdeteksi dan dikendalikan sehingga tidak berubah menjadi tindakannya. Menata hati jika dipahami artinya adalah kesanggupan atau kemampuan seseorang untuk berlapang dada dan dapat menerima orang lain dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya.
Selanjutnya menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin membagi makna hati menjadi dua, yaitu pertama, daging kecil yang terletak di dalam dada sebelah kiri dan di dalamnya terdapat rongga yang berisi darah hitam. Dan kedua, merupakan bisikan halus ketuhanan (rabbaniyah) yang berhubungan langsung dengan hati yang berbentuk daging. Hati inilah yang dapat memahami dan mengenal Allah serta segala hal yang tidak dapat dijangkau angan-angan. Begitu sentral dan pentingnya hati itulah maka setiap manusia harus menata hatinya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menyaksikan orang dengan berbagai perilaku dan tindak tanduknya. Manusia memang makhluk berkehendak, sehingga memiliki bermacam-macam keinginan atau cita-cita. Ada yang ingin cepat kaya, punya uang banyak, ingin populer, punya rumah dan mobil mewah dan sebagainya. Itu sah-sah saja dan hak setiap orang pada tingkatan manapun. Tetapi perjalanan hidup seseorang tidak selalu berjalan linier dengan keinginan atau cita-citanya. Yang kita peroleh tidak selalu sama dengan yang kita harapkan. Bisa saja kita memperoleh sesuatu yang lebih baik dari yang kita harapkan, atau sebaliknya. Jika itu terjadi, bagaimana sikap kita, di saat seperti itu, kita dituntut untuk pandai-pandai menata hati.
Menerima dengan lapang dada apapun pemberian Tuhan bukan pekerjaan mudah. Umumnya orang protes atau mengeluh jika hasil usahanya atau cita-citanya gagal atau tidak sesuai yang diharapkan. Ujungnya Tuhan diprotes atau disalahkan dan dikatakan tidak adil. Orang sering tidak sadar bahwa yang diberikan Tuhan kepadanya selalu yang terbaik, karena Tuhan pasti mengukur kadar kemampuan seseorang untuk menerima atau tidak menerima sesuatu.
Manusia memang makhluk unik. Itu sebabnya ketika Tuhan memberitahu malaikat bahwa Dia akan menciptakan makhluk yang diberi nama manusia, malaikat sempat bertanya untuk apa. Bukankah mereka kelak hanya akan menjadi perusak bumi, prediksi malaikat itu ternyata benar. Bukankah kerusakan dan gonjang ganjing dalam kehidupan di alam jagad raya ini karena ulah makhluk yang bernama manusia? Tak seorang pun dapat mengelak.
Seiring dengan perkembangan masyarakat saat ini, sikap “noto ati” itu tampaknya harus dilakukan, terutama bagi para pemimpin. Jika tidak, bisa stres. Sejak era reformasi, semua sendi-sendi kehidupan kita ini sudah dibuka sedemikian lebar, malah ibaratnya sudah ditelanjangi bulat-bulat. Saling hujat, caci maki, mencari-cari kesalahan orang seolah menjadi pemandangan biasa. Unggah-ungguh dan tepo seliro pun sudah mulai terkikis. Sarkasme berkomunikasi menjadi biasa, tidak saja oleh orang-orang berpendidikan rendah, tetapi juga yang berpendidikan tinggi.
Dengan menata hati, kita akan senantiasa memiliki jiwa yang tenang tanpa kebencian. Keniscayaannya jika kebencian dan dendam termasuk hal yang sangat merugikan diri sendiri, menghilangkan kebahagiaan, dan menumbuhsuburkan aneka keburukan.
Dalam ajaran agama kita, jelaslah mengapa Rasulullah saw berpesan agar kita jangan marah dan dendam, pesan beliau tersebut diulang sampai tiga kali. Hal ini menunjukkan betapa buruk kebencian atau dendam tersebut, salah satu efek buruk dari kebencian dan kedendaman adalah menghilangkan kejujuran kita melihat kelebihan dan kebaikan orang yang dibenci. Menata hati bukan perkara yang mudah akan tetapi jika berhasil melakukannya maka hidupnya akan menjadi tenang, bekerja menjadi ikhlas, dan hidupnya barokah serta indah. Jelaslah jika hati berfungsi sebagai sebuah sistem yang akan menentukan baik buruknya kehidupan manusia. Kita diingatkan firman Allah swt: "Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS.Al-Hujurat {49}:10).
Selanjutnya dari Anas r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Janganlah engkau semua saling benci-membenci, saling dengki-mendengki, saling belakang-membelakangi dan saling putus-memutuskan ikatan persahabatan atau kekeluargaan dan jadilah engkau semua hai namba-hamba Allah sebagai saudara-saudara. Tidaklah halal bagi seseorang Muslim kalau ia meninggal yakni tidak menyapa saudaranya lebih dari tiga hari."
Akhirnya, hanya dengan menata hati kita dapat memupuk persaudaraan, meningkatkan silaturrahmi di antara kita. Kita jadi teringat filisofi jawa, setiap kita hendak pergi selalu diingatkan "ati-ati" (hati-hati), kalimat ini selain bermakna awas hati-hati di jalan (titi Dj) tetapi maksud yang sebenarnya adalah jagalah hati (mu), jagalah hati (mu) kita selalu diingatkan betapa hati itu inti untuk menjalani hidup.
Wallahu a'lam bi showab
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart
Jambi, 28 Nopember 2025
Dr. Chazim Maksalina, M.H.