
Dua hari ini kita mendapat kabar memprihatinkan kawan-kawan kita dari PA Kuala Tungkal, sejak kemarin dan mungkin hari ini wilayah kota Kuala Tungkal mengalami banjir rob sungai Pengabuan dan laut mengalami pasang sehingga air menggenangi pelataran bahkan masuk ke seluruh ruangan dari PTSP sampai ke belakang tak terkecuali, yang menurut informasi baru sekali ini terjadi. Kita berharap dan berdoa semoga teman-teman PA Kuala Tungkal tetap menjaga kedisiplinan dan kenyamanan kantor, karena kita harus memberikan pelayanan prima kepada pencari keadilan.
Kehidupan ini penuh dengan tantangan dan rintangan, kadang orang menyebutnya itu sebagai bagian dari takdir Allah, yakni takdir yang telah ditetapkan Allah atas hambanya. Tetapi sebelum adanya takdir, manusia percaya ada perbuatan diri yang biasa disebut dengan kehendak atau usaha. Manusia wajib mengusahakannya tetapi Allahlah yang menentukannya, karena manusia tidak mempunyai kuasa untuk menentukan, kalaupun ada itu adalah kuasa mengubah bukan kuasa untuk menolak takdir.
Dalam takdir manusia diajarkan bertanggung jawab pada dirinya sendiri, yakni mempertanggungjawabkan segala apa yang ia usahakan. Tanggung jawab ini sebagai bukti bahwa adanya campur tangan manusia dalam menentukan takdirnya. Orang akan bertanggung jawab pada dirinya sendiri tetapi kadang manusia juga harus menanggung dosa manusia yang lain sebab dirinya. Manusia diberi kehendak kebebasan memilih dan memilah maka kehendak itu adalah sebagian dari anugerah yang diberikan Allah.
Adapun takdir sebagian orang berpendapat bahwasanya takdir adalah bagian dari sesuatu yang biasa disebut dengan sebab-akibat padahal faktanya tidak semuanya begitu. Imam Al-Ghazali dalam kehidupannya dalam konsep tasawuf percaya bahwa segala sesuatu pasti ada sebabnya, tetapi ia tidak percaya adanya akibat dikarenakan akibat adalah urusan Allah swt. Manusia tidak dapat menentukan akibatnya karena Allah lah yang maha berkehendak dan maha mengatur segala urusan. Al-Ghazali dicap sebagai orang yang memungkiri takdir karena pandangannya tersebut padahal tidak demikian. Ada satu pertanyaan, ketika manusia jika melakukan sesuatu apakah pasti akan mendapat seperti apa yang ia usahakan? Jawabannya belum tentu. Itulah yang menyebabkan al-Ghazali tidak percaya adanya akibat karena akibat adalah hak prerogatif Allah. Takdir adalah konsep hidup dalam rukun iman keenam, yang menjadikan dasar berpegangnya kaum muslimin dan menjadi pondasi dalam kepercayaan beragama. Takdir adalah kadar dan ukuran, yakni ukuran batasan kemampuan yang diberikan Allah kepada manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada makhluknya.
Manusia semuanya mempunyai batasan dalam menjalani kehidupannya, entah itu batasan dalam melakukan suatu pekerjaan ataupun yang lainnya. Takdir ditempatkan di dalam rukun iman paling akhir adalah dikarenakan takdir merupakan ketentuan Allah yang bisa berubah dan bisa tetap. Manusia harus percaya pada Allah, nabi, malaikat, kitab, hari akhir dan tentu saja takdir adalah konsep kewajiban mutlak dan sebagai suatu proses tetapi dalam kemutlakan itu Allah berhak menentukan mana hamba yang dipilihnya dan mana hamba yang dimurkainya.
Percaya pada takdir yang baik dan buruk adalah suatu kewajiban tetapi jangan terus selalu merana bahwa hidup itu penuh dengan takdir buruk, takdir yang diberikan pastilah ada hikmah yang diberikan tetapi manusia kadang tidak mau memikirkan hal yang itu sehingga yang dirasakan semua kehidupan penuh dengan kepayahan. Konsep takdir tercantum dalam surat al-A’la ayat 1-3: Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi. Yang menciptan lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya). Yang menentukan takdir atau kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. Di sini dapat diketahui bahwasanya Allah telah menyiapkan takdir bagi masing-masing hambanya sehingga ketetapannya pun berbeda, dan ketika penetapan yang dilakukan Allah telah tercatat ada beberapa hal yang dapat diubah manusia pada takdirnya dan ada beberapa hal yang tidak bisa diubah manusia. Takdir yang telah ditetapkan pada manusia maka Allah akan mengiringinya dengan rahman-Nya. Manusia wajib berusaha dan Allahlah yang menentukan, itulah konsep yang sesuai dan dapat diterapkan dalam keseharian. Takdir belum bisa disebut sebagai hukum alam karena keduanya berbeda. Takdir pada dasarnya adalah konsep yang ditetapkan Allah untuk menjalani kehidupan sesuai apa yang dikehendaki Allah dan sesuai syari’at yang ditetapkan-Nya. Sedangkan hukum alam adalah ketentuan yang berlaku dalam kehidupan alam sehingga tercampur dengan takdir Allah. Takdir adalah urusan Allah, maka Ibn Al-Qayyim Al-Jauziy berkata “andai kamu tahu bagaimana Allah mengatur hidupmu, pasti kamu akan meleleh karena cinta kepada-Nya".
Do'a, dukungan, simpati dan empati tetap kita berikan kepada kawan-kawan di PA Kuala Tungkal. PA Kuala Tungkal BISA BISA BISA.
Wallahu a'lam bi showab
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi, salam sehat, solid, speed, smart
Jambi, 8 Desember 2025
Dr. Chazim Maksalina, M.H.