SEORANGKARIM
Oleh:Mustainah
(Panitera Pengganti PA Sengeti)
Wajah magrib itu tiba, dia seorang lelaki besar dengan sorot mata yang datar. Langkahnya berayun meninggalkan jejak melalui alas sendalnya. Murung, entah apa yang tertumpu dipikiran lelaki itu. Sekejap geraknya mulai latah menyusuri lorong-lorong jalanan tikus. Tanpa arah tanpa tujuan. Dia hanya mengikuti irama yang ingin ia pijak. Matahari dipertengahan, suara adzan zuhur berkumandang. Sesaat lelaki itu berhentimendongak padasebuahmasjidyangtak jauh dari pijakannya. Matanya mulai berputar mendapati dirinya terpantul dalam genangan air selepas hujan. Sedetik kemudian barulah ia tau, kali ini dia benar- benar sendirian, tidak ada yang mengenalnya disini. Lelaki itu memutarkan lagi bola matanya keatas, disana awan menumpuk tebal tanpa bentuk yang sempurna. Suara ini tidak asing, hatinya mulai berdenyut, sesuatu mendorongnya untuk mendekat.Jiwa lelaki ituterpanggil kembali setelah sekianlama duniawi menarik dirinya menjauhi sang Khaliq.
Masjid kecil dan sedikit bobrok. Dia beranjak untuk berwudhu. Celana panjangnyadisekaphinggalutut.Airwudhumulaimembasuhwajahnya.Lelakiitu tanpasadarterisak,airmatanyatumpah. Diamenyadari rukunwudhu yangduluia hapalmulaiterlupa.Wajahnyamengerasmencobamengingatlagi.Hinggaakhirnya seseorang datang dan menyadari masalah lelaki itu dan bersegera membantu. Cukup canggung dengan hati yang kalut. Bibirnya bergerak membaca niat shalat denganperlahan.Kedamaianmulaimerasuki jiwanya. Terasatenang,suaramerdu imamsholatterdengarsedikitberbisik.Kedamaianyangtelahlamadiacarikinidia temukan. Air mata menetes lagi. Suara isakan tak terkendali menyusuri ruangan. Dicurahkannya beban yang dipikul bersamaan dengan sujud akhir. Lelaki yang dulunyaterkenalpenuhwibawaituciutdihadapanTuhannya.Diataksombonglagi seperti dahulu, dirinya bahkan linglungtak tau apa yangmasih bisa ia banggakan.
Badannya terus membungkuk, bersimpuh serendah-rendahnya. Tangisnya pecah,menangisidirinyasendiri.Orang-orangbergantianmenatappenuhiba.Pasti sakitsekali,bagaimanamungkinlelakisepertinyamenangistanpahenti?Apayang terjadi? Mungkin demikian sahutan orang-orang yang mendengar. Setelah shalat usai,lelakiitumasihengganuntukpergi.Diamenetapdengantelapaktanganyang basah menutupi wajah, sedangkan yang lain memilih bubar dengan aktivitas di tempat lain. Seseorang menepuk pundaknya pelan. Tak berhenti, lalu mengusap- usap selayaknya memberi energi pada lelaki itu.
“Assalamu’alaikumpak!” salam orangitu. Lelaki memutar posisinya berhadapan. Ternyata dia orang yang membantunya melaksanakan wudhu.
“Wa’alaikumsalam…”jawabnya sembarimenghapusairmata.
“Bapak,adayang bisasaya bantu?Kenapasedihsekali!”orangitutersenyum,lalu lelaki membalas senyumnya berat.
“Ohtidakpak,saya hanya sedihsedikit”dia berbohong.
“Begitu pak?! Bapak sudah makan? Mari ke rumah saya, alhamdulillah tadi ada rezeki, istri saya masak banyak”
“Tidakpak,tidakterimakasihmerepotkanbapak” tolaklelaki halus.
“Wah bapak tidak usah sungkan, saya pak Ahmad warga kampung sini. Ayo mari pak!” Ahmad memaksa untuk mengikutinya, akhirnya lelaki pasrah.
Tidak terlalu jauh dari masjid, didapati rumah sederhana dengan tanaman yangasridihalamannya,iturumahAhmad.Segera Ahmadmempersilahkanlelaki itu masuk, dan benar saja makanan telah tersedia di atas tikar rotan. Adam dan Hawa,duaanakkembarAhmadyangberhamburanberlarimemelukayahnyapenuh cinta. Melihat itu mata lelaki mulai berair.
“Ayodimakan,maafseadanyapak”
“Tentupak,tidakmasalah”merekamulaimenikmatimakansiangdiselangiobrolan ringan.
“Oh jadi pak Karim ini dulunya pemilik gedung di pertigaan desa sebelah itu?” sebut Ahmad memperjelas status lelaki yang bernama Karim di depannya.
“Begitulahpak,tapiitusudahlamasekali,sayasudahjualsemuanya,mereka tidak berharga lagi bagi saya. Ya bagaimana ya pak, karena mereka semua,saya tamak. Saya tinggalkan akhirat saya. Perintah agama saya kesampingkan, saya merasa telah pergi dari Tuhan saya tarlalu jauh. Sekarang saya sebatang kara, anak istri saya memilih pergi meninggalkan saya. Itu karena harta sialan itu pak. Mereka butakan mata dan hati saya!” lantang Karim terisak penuh penyesalan.
“Memang, awalnya semua terlihat baik, saat istri dan anak saya kabur dari rumah, hidup saya masih terasa damai, tidak ada yang berubah. Saya gencar dalam perjudian, taruhan apa saja saya ikuti. Dosa saat itu adalah hiburan bagi saya”
“Tapisekejapsirnapak,hatisayasakit,jiwasayameronta,sayarindusekalidengan istridananaksaya.Sayacarimerekakeseluruhpenjuru.Sayatelusuri satu-persatu dengan kaki saya sendiri, tapi nihil. Mereka benar-benar menghilang dari pandangansaya.Sakitsekalipak,sungguhsakitsekali!Sayasangatrindupak,saya ingin peluk anak-anak saya” sambung Karim pilu.
“Baik pak, tenangpak Karim, Allah pasti bantu. Mungkin semua itu ganjaran atas pebuatan bapak di masa lalu, saya paham bapak sangat menyesal. Solusi terakhir yang bisa saya berikan adalah dengan terus bertawakal kepada Allah, terus berhusnudzondenganketetapanAllahdanjanganmemfitnahAllahdengan berburuk sangka. Bapak perlu memperbaiki diri. Saya yakin, dengan izin Allah, bapak akan dipertemukan dengan keluarga bapak” Ahmad memdoakan Karim.
3 Bulan berlalu, hilal kedatangan istridananak belum juga muncul. Karim tidak menyerah, dia masih sesekali berkelana mencari sosok kerinduannya itu. Segala upaya, brosur dan surat kabar lainnya di sebar luas. Doa yang penuh penyesalan dan tekad menjadi lebih baik, tak lepas dalam benaknya. Karim yakin satu hal yang pasti, dia percaya istri dan anaknya akan kembali.
Karimmengeluh,kakinyaletih. Diasudahberjalandariufukkemarin.Saat ini genap sewindu Karim hidup sebatang kara. Sanak saudara, dia dan kakaknya, yaitu saudara kandung satu-satunya sudah lama pindah dari kota itu. Sedangkan daripihakistri,merekaengganuntukberhubungandengannyalagi. Karimsesekali mengunjungi Ahmad yang siap menyambutnya dan mendengar keluh-kesahnya. Ahmad selalu baik dan Karim dituntunnya menjadi hamba yang lebih taat. Tiba- tiba dering telpon genggamnya berbunyi, nomor tak dikenal tertera pada layar. Karim mengangkatnya, suara muda diseberang sana menyahut.
“Assalamu’alaikumpak”
“Wa’alaikumsalaminisiapa?”Karimtampakbingung.
“Pak, Andi pak, anak bapak” sontak Karim terkejut, Andi anak sulungnya yang sudah lama pergi menelponya, Karim menangis.
“Andi? YaaAllah nak .. Mana ibumu? Bapak mau minta maaf nak, bapak rindu ingin bertemu kalian, tolongmaafkan bapak, jangan siksa bapak seperti ini, bapak janji akan berubah lebih baik!”
“Bapak…”
“Bapak…”Andimulai menangis.
“Bapak tolong maafkan ibu ya, ibu sudah tidak ada. Ibu meninggal. Kata dokter, neuroplastisitas di wilayah otaknya menyebabkan beberapa gejala dan mulai memperparah kondisi tubuh ibu. Ibu mulai emosian, moodnya cepat berubah dan seringmenyakitidirinyasendiri.Ibusakitkarenadepresipak,ibuberteriakseperti orang gila”
“Apa?!Kamukenapatidak beritau bapak?”
“Maaf pak, ibu marah jika tau Andi menelpon bapak. Ibu takut Andi mencontoh kelakuan bapak” Karim terpukul mengetahui alasan istrinya memilih melarang anaknya untuk bertemu. Dia tidak dapat membantahnya, itu memang benar.
“Ya Allahini salahku, apa yangtelah aku perbuat?” keduanyamenangis dalamtelepon.
Penantian Karim selama ini kandas, kerinduannya dan keutuhan rumah tangga yang selama ini ingin dibangun kembali berujung pada petaka. Istrinya memilih pergi tanpa memberikan ampunan dari perilakunya di masa lalu, Karim menyesal. Mengapa sosok yang telah dipilihnya untuk menua bersama tampak asing baginya dahulu, mengapa dia memilih untuk tidak menghiraukan kebahagiaannya. Apalagi yang harus dia lakukan untuk membawanya kembali? Raga telah terkubur, dan jiwa pergi menuju Rabb-Nya.
Ujiannya terlalu berat. Beban kerinduan itu mencakarnya dalam kalbu. Bagaimana lagi dia harus berpijak. Bahkan sanggahannya saja tak memberi maaf.
NOTE :Parapembacayangbudiman,orangyangsaatiniberada disisikita hingga tua nanti, hingga memutih rambut, hingga membungkuk badan. Maka cintailah dia dengan cinta saat kamu menemukannya. Dia rezekimu, Allah hadiahkan dia untukmu. Jika kamu bosan dengan wujudnya, ingatlah bagaimana kamu bisa mencintainya dahulu.